14 Jul 2017

KAPOLRES DAN ANGGOTA SAMBANGI SITUS BERSEJARAH DI BITING KUTORENON

Lumajang - Akhir pekan ini, Kapolres Lumajang AKBP Rachmad Iswan Nusi SIK MH kembali mengajak anggota nya untuk mancal bareng (baca: jawa) melaksanakan olahraga hingga mengenal lebih jauh sejarah berdirinya kota Lumajang ini dengan mengunjungi situs bersejarah di dusun Biting Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono Lumajang 
Setelah melewati jalan Veteran - Desa Klanting- Desa Mojo- Desa Dawuhan Lor barulah kemudian rombongan gowes Bapak Kapolres Lumajang dapat beristirahat dan singgah  di Dusun Biting, walau di luar kantor, Perwira kelahiran Surabaya ini merasa nyaman untuk memberikan pengarahan kepada anggotanya untuk tetap eksis dalam memberikan pelayanan prima kepolisian kepada masyarakat. Hal tersebut di benarkan oleh Paur Subbaghumas IPDA Basuki Rachmad SH " meskipun dengan kegiatan olahraga seperti ini, beliau tetap memberikan pengarahan kepada anggotanya disela sela waktu istirahat, mungkin dengan suasana yang berbeda anggota lebih dapat memahami perintah dan petunjuk pimpinan" ujar nya  


Diceritakan bahwa Lumajang dizaman pra sejarah dikenal dengan sebutan Nagara Lamajang bisa dilihat dalam Prasasti Mulan Malurung yang dibuat oleh Raja Singosari (Tumapel), Sminingrat atau Wisnuwardhana, ditemukan  di kediri padan tahun 1975 dan dalam prasasti itu bertuliskan angka tahun 1177 ( 1255 Masehi). Di prasasti itu disebutkan Sminingrat mengutus anaknya Narariya Kirana sebagai juru pelindung Nagara Lamajang.
Arya wiraraja adalah tokoh besar yang lahir dari keturunan Brahmana dari Pulau bali Ida Manik Angkeran datang ke jawa untuk menjengguk kakeknya. Karena sang kakek meninggal, Arya Wiraraja yang memiliki Nama Ida Banyak Wide diangkat menjadi anak Mpu Sedah.
Arya Wiraraja meninggal pada tahun 1316 masehi dalam usia 87 tahun. Patih Nambi sebagai salah satu putra beliau pulang ke Lamajang untuk mengadakan upacara dukacita ayahnya dan diserang majapahit dengan mendadak oleh Jayanegara (Raja Majapahit setelah Raden Wijaya) atas hasutan dari Mahapatih(dalam kitab Pararton). Lamajang jatuh karena tidak ada persiapan perang. Fitnah ini membawa bencana. Tujuh menteri utama Majapahit yang juga teman-temn seperjuangan Raden Wijaya yang tidak puas pada keputusan memalukan ini ikut gugur di Lamajang membela patih Nambi. ( Humas)